MENU

Sejarah Singkat

Sejarah Singkat Perjalanan SMA Negeri 1 Blora

Perkembangan sejarah pendidkan di wilayah Kabupaten blora tidak dapat kita lepaskan kaitannya dengan perkembangan SMA Negeri 1 Blora. Seiring dengan perkembangan jaman ternyata SMA Negeri 1 Blora masih tetap dapat mempertahankan komitmennya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Blora pada khususnya. Berpuluh-puluh prestasi telah berhasil diraih oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Blora baik di tingkat lokal maupun ditingkat nasional.

Keberhasilan yang telah diraih oleh segenap unsur di lingkungan SMA Negeri 1 Blora ini ternyata tidak muncul begitu saja, namun diawali oleh sebuah sejarah yang akhirnya dapat melahirkanSMA Negeri 1 Blora ini. Untuk itulah dalam tulisan ini nanti kami akan memaparkan uraian singkat mengenai Sejarah Perkembangan SMA Negeri 1 Blora?.

A. Perkembangan sekolah di Blora Dari Jaman ke Jaman

Perkembangan pendidikan setelah kemerdekaan Indonesia pada umumnya telah mengalami perubahan dibandingkan dengan masa penjajahan, terutama sekolah-sekolah yang khusus untuk kalangan tertentu dijadikan sekolah-sekolah negeri. Agar semua penduduk dapat mengenyam pendidikan.

Di Kabupaten Blora perubahan sekolah-sekolah khusus seperti HIS dijadikan Sekolah Rakyat yang memiliki kedudukan sama. ELS menjadi SR 6 tahun. Zending menjadi SR Kristen Rakyat 6 tahun. Di Blora juga didirikan Sekolah Lanjutan Tehnik Pertukangan yang didirikan tahun 1949. kemudian menjadi ST Negeri yang lokasinya sekarang adalah SMP Negeri 5 di Jalan Halmahera. Untuk sekolah Lanjutan Atas baru ada di kota-kota besar seperti Pati, Solo, Semarang dan kota besar lainnya. Padahal minat masyarakat Blora untuk melanjutkan ke tingkat Sekolah Lanjutan Atas sangat besar, sehingga kebanyakan anak-anak blora melanjutkan sekolahnya di Pati.

Berdasarkan kenyataan di atas maka kahirnya yayasan otonom (sekarang PEMDA) tahun 1956 mendirikan sekolah lanjutan atas swasta di Blora yang diberi nama SMA Wijaya yang dipimpin oleh Bapak Zenny Soenarto (mantan mahasiswa kedokteran Surabaya) yang untuk sementara waktu menggunakan gedung SD Kedungjenar (sekarang sebelah selatan Kantor PU Blora) dan masuk sore hari. Adapun tenaga pengajar diantaranya :

1. Bapak Soendoko, mengajar Bahasa Indonesia.
2. Bapak Noerhadi, mengajar Sejarah.
3. Bapak Harmoyo, mengajar Menggambar.
4. Bapak Djoemadi, mengajar ilmu Pasti.
5. Bapak Soetadji, mengajar Hitung dagang dan Ekonomi

Disamping itu ada lagi satu sekolah swasta yaitu SMA Nasional yang menempati gedung SD Darmorini (sekarang SD Kunden di jalan Dr. Soetomo) juga masuk sore hari.

B. Sejarah Perkembangan SMA Negeri 1 Blora

SMA Wijaya ini akhirnya oleh yayasan otonomi dipersiapkan untuk menjadi SMA Negeri. Hal ini tidak lepas dari perjuangan tokoh-tokoh di Blora diantaranya : Bapak Padmowijoto (Kepala Inspeksi P dan K Blora), Bapak Sofyan Hadi (anggota Badan Pemerintah Harian Kabupaten Blora), Bapak Nartio (Bupati Blora), sedangkan di Jakarta Bapak Siswojo, orang asli Blora yang menjadi Kepala Urusan SMA se-Indonesia juga ikut andil memperjuangkan berdirinya SMA Negeri Blora. Sehingga dengan surat keputusan tertanggal 1 Oktober 1959 akhirnya SMA wijaya dinyatakan menjadi SMA Negeri Blora. Pesta peresmian pembukaan SMA Negeri Blora diadakan pada tanggal 1 Oktober 1959 di kediaman Bapak Bupati Nartio di Jl. Pemuda pada siang hari jam 11.00 WIB yang dihadiri antara lain : Muspida, Kepala-kepala SMP, guru SMA dan kepala-kepala dinas Kabupaten Blora. Setelah peresmian Bapak Soeyadi Danoesubroto, BA diangkat menjadi pejabat direktur. Sebelum peresmian telah datang guru-guru SMA berturut-turut :

1. Bapak djoko Widajat, mengajar Tata Hukum.
2. Ibu Daroyah, isteri Bapak Joko Widajat (guru Ekonomi).
3. Bapak Achiri DW (guru Ilmu Pasti).
4. Bapak Bambang suwono (guru Bahasa Perancis).
5. Bapak Abdul Kamar (Bahasa Inggris0.
6. Ibu suwarsiskin (guru Sejarah).
7. Bapak Djamhoer (Ilmu bumi).

Setelah peresmian datang pula guru-guru seperti :

1. Ahmad Soemedi (guru kimia).
2. Bapak Soekardi (sejarah)
3. Bapak Sabit (guru olahraga)
4. Ibu Haryati (Bahasa Indonesia)
5. Bapak soenarjo (ilmu pasti0
6. Ibu suharti (ilmu pasti)
7. Bapak Sudijono (ilmu pesawat)
8. Bapak Marsoedi (guru kimia)
9. Ibu Sukorim (Bahasa Indonesia)
10. Bapak Asmungin (ilmu bumi)

Tenaga Tata Usaha, yaitu :

1. Bapak Daryono
2. Bapak Kasrin
3. Ibu Soeparti

Pernah datang juga seorang Kepala Sekolah definitif, bapak Koesoema Arjo, tetapi hanya 1 minggu di Blora. Karena tidak krasan dan kembali ke Jogja.

Sebelum memiliki gedung sendiri atas inisiatif bapak Padmowijoto SMA Negeri Blora masih meminjam gedung SD Kedungjenar berlangsung selama 3 tahun pada tahun 1962, SMA Negeri Blora pindah ke gedung baru di Kelurahan Tempelan yang dulunya merupakan gedung SD khusus untuk sekolah WNI keturunan (Tionghoa), sebelumya pada jaman Belanda gedung tersebut dijadikan sebagai asrama militer. Kemudian menjadi milik WNI dan menjadi gudang tembakau. Dana pembelian gedung di keluarahan Tempelan tersebut atas inisiatif Bapak Soekirno (Bupati Blora) dan Bapak Padmowijoto (Kepala Inspeksi P dan K) dilakukan dengan cara menjual jagung yang diperoleh dari sumbangan rakyat keluar wilayah Blora sehingga pada saat itu SMA ini sering dijuluki sebagai SMA Jagung?. Akhirnya gedung yang dibeli hanya bangunan lama dan bagian tengah beserta aula seharga Rp. 800.000,- yang menjadi hak milik SMA Negeri Blora, sedangkan gedung sebelah utara (ruang kaca) belum sepenuhnya menjadi hak milik SMA sampai sekarang. Secara resmi SMA Negeri Blora pindah ke lokasi saat ini yaitu di kelurahan Tempelan (Jl. Tentara Pelajar 21 Blora) tahun 1962 dari SD Kedungjenar.

Setelah menempati gedung baru datang pula tenaga pengajar baru seperti :

1. Bapak Soehadi, mengajar ilmu bumi.
2. Bapak Soegijono, mengajar Bahasa Indonesia.
3. Bapak Gono Soemarjo, mengajar Ilmu bumi.
4. Bapak Sardjono, mengajar Olah raga.
5. Bapak Soewito, mengajar Biologi.
6. Ibu Jatinah, mengajar Tata hukum
7. Bapak Soewadji, mengajar BP
8. Bapak soegijono, mengajar Olahraga
9. Ibu sukorini, mengajar Bahasa Indonesia.
10. Ibu Riadini, mengajar Bahasa Jerman

Nama SMA Negeri Blora berganti menjadi SMA Negeri 1 Blora setelah berdiri SMA Negeri 2 Blora tahun 1982.

Kemajuan yang dicapai oleh SMA Negeri 1 Blora sejak awal berdirinya hingga saat ini tidak dapat kita lepaskan kaitannya dengan tangan dingin? dari Kepala Sekolah yang selama ini pernah memimpin di SMA Negeri 1 Blora, diantaranya :

1. S. Soejadi Danoe Soebroto, BA (1959 - 1980)
2. Soenarjo Prawiroatmodjo, BA (1980 - 1990)
3. Ahmad Soemedi, BA (1990 - 1993)
4. Soekardi, BA (1993 - 1996)
5. Drs. Soegijono (1996 - 2000)
6. Drs. R. Harjono (2000 - 2004)
7. H. Gono Soemarjo, S.Pd. (2004 - 2005)
8. Drs. Niyadi (2005 -2010).
9. Drs. Teguh Sutrisno, M.Pd (2010 - 2012)

10.Drs Sudarmanto ( 2012  -2016 )

11. Drs. Slamet Joko Waluyo, M.Pd ( 2016 - sekarang )


Memang selama ini masih banyak kendala yang harus dihadapi oleh SMA Negeri 1, khususnya yang berkaitan dengan sarana dan prasarana. Secara fisik bangunan SMA Negeri 1 Blora dari jaman ke jaman memang tidak begitu banyak mengalami perubahan, hal ini karena keterbatasan lahan untuk mengembangkan SMA Negeri 1 Blora, sehingga lingkungan SMA Negeri terkesan umpel-umpelan dan sumpek. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak yang terkait.

C. Tantangan dan Harapan SMA Negeri 1 Blora

Harapan kita bersama adalah marilah kita bangun dan wujudkan lulusan-lulusan SMA Negeri 1 yang tangguh, tanggap serta memiliki kredibilitas yang tinggi dan memiliki rasa tanggung jawab atas keselamatan, keutuhan dan kelangsungan bangsa dan negara Indonesia, serta didasari oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Namun kesemuanya hanya dapat kita wujudkan apabila ada kesinambungan antara unsur sekolah, orang tua dan masyarakat itu sendiri. Apa dan bagaimana tindakan kita untuk mewujudkannya.

Viva SMA Negeri 1 Blora !!!!

KOMENTAR